Penyusuan dan Masa Kecilnya

Jamuan Harian dari Sumber Ilmiah (Karya Ibrahim Muhammad Humaid dan Abdurrahman Abdullah Asy Syarif)

Sayyid Syadly

10/1/20241 min baca

Kamis: Hidangan Sirah

Penyusuan dan Masa Kecilnya

Penyusuan:

Kebiasaan para bangsawan Quraisy untuk mengirimkan anak-anak mereka kepada para wanita menyusui dari pedalaman, agar mereka mendapatkan kelancaran dalam berbahasa dan terhindar dari penyakit dan wabah.

Aminah, ibu Nabi , ingin melakukan hal tersebut. Dia menunggu kedatangan para wanita menyusui dari Bani Sa'd untuk menyerahkan putranya kepada salah satunya.

Ketika mereka datang, di antara mereka ada seorang wanita menyusui bernama Halimah as-Sa'diyah, yang kemudian mengambilnya.

Nabi menjadi berkah bagi Halimah dan keluarganya, dan dia tinggal bersamanya hingga berusia empat tahun.

Di sana, Jibril 'alaihissalam membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya, kemudian mencucinya dan menyucikannya dari bagian setan (HR. Muslim, no. 162)

Kematian Ibunya:

Setelah itu, ia kembali dari daerah Bani Sa'd kepada ibunya, Aminah, di Mekah.

Setelah dua tahun berlalu, ibunya membawanya ke Madinah untuk mengunjungi paman-pamannya, namun dalam perjalanan pulang, ia jatuh sakit dan meninggal di tempat yang dikenal dengan nama Abwa, ketika Nabi berusia enam tahun.

Dengan demikian, ia menjadi yatim piatu, kehilangan ayah dan ibunya.

Asuhan Kakeknya

Setelah kematian ibunya, Nabi diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, yang memberinya kasih sayang dan perhatian, serta memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih.

Namun, kasih sayang itu tidak berlangsung lama, karena kakeknya, Abdul Muthalib, meninggal dua tahun setelah ibunya.

Asuhan Pamannya:

Abdul Muthalib menyadari sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh putranya, Abu Talib. Ketika ia merasakan akhir hayatnya semakin dekat, ia mewariskan tanggung jawab untuk mengasuh cucunya kepada Abu Talib.

Abu Talib pun menjalankan tugas ini dengan baik, meskipun ia adalah seorang yang sedikit hartanya dan banyak tanggungannya.

Ia sangat mencintai Nabi dan sering kali mengutamakannya di atas anak-anaknya dalam hal makanan dan minuman.

Nabi menjadi berkah bagi mereka; bahkan ketika anak-anak Abu Talib makan, mereka tidak pernah merasa kenyang karena banyaknya.

Namun, ketika Nabi makan bersama mereka, mereka merasa kenyang. Abu Talib berkata,

إِنَّكَ لَمُبَارَكٌ

“Sesungguhnya engkau adalah sosok yang diberkahi” (Dalail al-Nubuwwah lilbayhaqi (20/2))