Pandangan yang Sempit terhadap Kehidupan

Jamuan Harian dari Sumber Ilmiah (Karya Ibrahim Muhammad Humaid dan Abdurrahman Abdullah Asy Syarif)

Sayyid Syadly

10/1/20242 min baca

Selasa: Hidangan Akidah

Pandangan yang Sempit terhadap Kehidupan

Pandangan yang sempit terhadap kehidupan adalah ketika pemikiran seseorang hanya terbatas pada kenikmatan dunia dan usahanya terfokus pada mencarinya. Ia tidak memberi bobot kepada akhirat, tidak peduli terhadap urusannya, dan tidak beramal untuknya.

Allah Ta'ala mengancam orang yang memusatkan pandangannya hanya pada kenikmatan dunia, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ۝ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang lalai dari ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, disebabkan apa yang mereka kerjakan." (QS. Yunus: 7-8)

Dan Allah Ta'ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah apa yang mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang mereka kerjakan."
(QS. Hud: 15-16)

Dan firman Allah Ta'ala,

وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ۝ يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

"Janji Allah, Allah tidak menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap akhirat." (QS. Ar-Rum: 6-7)

Meskipun mereka ahli dalam urusan dunia dan keuntungannya, mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang bodoh dan tidak pantas disebut sebagai orang berilmu, karena ilmu mereka tidak melampaui urusan dunia.

Pandangan mereka terhadap kehidupan dunia tidak lebih dari pandangan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

"Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya." (QS. Al-Furqan: 44)

Hal ini karena mereka menggunakan tenaga dan waktu mereka untuk sesuatu yang tidak akan kekal bagi mereka, dan mereka pun tidak akan kekal untuknya. Mereka tidak beramal untuk akhirat, yang merupakan takdir yang pasti mereka hadapi. Allah Ta'ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

"Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minun: 115)

Adapun pandangan yang benar terhadap kehidupan adalah menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini seperti harta, kekuatan, anak, dan waktu sebagai sarana untuk membantu dalam melakukan amal yang baik untuk kehidupan yang abadi.

Dunia ini adalah jembatan menuju akhirat, dan arena untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dari sinilah bekal untuk surga, dan ini adalah ladang untuk kehidupan akhirat.

Kesejahteraan yang diperoleh oleh penghuni surga adalah hasil dari apa yang mereka lakukan di dunia ini, seperti shalat, puasa, dan berinfak. Allah Ta'ala berfirman kepada penghuni surga,

كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ

"Makanlah dan minumlah dengan enak, sebagai balasan atas apa yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah berlalu." (QS. Al-Haqqah: 24)

Dalam kehidupan ini, seorang hamba diuji tentang kejujurannya dalam mencari akhirat dan diujicobakan usahanya menuju akhirat, sebagaimana Allah berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

"Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka: siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya." (QS. Al-Kahf: 7)