Belajar & Khidmah
Awal Mula Penyimpangan dalam Aqidah Manusia
Jamuan Harian dari Sumber Ilmiah (Karya Ibrahim Muhammad Humaid dan Abdurrahman Abdullah Asy Syarif)
Sayyid Syadly
10/1/20242 min baca
Selasa: Hidangan Aqidah
Awal Mula Penyimpangan dalam Aqidah Manusia
Allah menciptakan jiwa manusia dan menjadikannya secara fitrah berada dalam Islam, mengakui Allah dengan tauhid, mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Allah Ta'ala berfirman,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ الله
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah" [Ar-Rum: 30].
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
"Tidak ada seorang pun yang dilahirkan kecuali berada di atas fitrah (Islam), kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi" (HR. Bukhari 1358 dan Muslim 2658).
Maka pada dasarnya, keturunan Adam diciptakan dalam keadaan bertauhid, dan agama mereka adalah Islam sejak zaman Nabi Adam 'alaihissalam dan keturunannya selama berabad-abad lamanya.
Syirik merupakan penyimpangan yang baru muncul kemudian, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا
"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, lalu mereka berselisih" [Yunus: 19].
Awal mula penyimpangan dan perbedaan dalam aqidah terjadi pada kaum Nabi Nuh.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata,
"كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشَرَةُ قُرُونٍ كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ
"Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh terdapat sepuluh generasi, semuanya berada di atas Islam" (HR. Al-Hakim 3654).
Nabi Nuh 'alaihissalam adalah rasul pertama yang diutus, sebagaimana firman Allah Ta'alaz
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ
"Sungguh, Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya" [An-Nisa: 163].
Allah Ta'ala berfirman,
وَكَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً بعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ
"Manusia dahulunya adalah satu umat (beragama tauhid), kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan" [Al-Baqarah: 213].
Maka, diutusnya para nabi adalah karena perbedaan dari agama yang benar dan fitrah yang lurus.
Penyebab penyimpangan pada kaum Nabi Nuh 'alaihissalam adalah sikap berlebihan dalam menghormati orang-orang saleh.
Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, setan membisikkan kepada kaumnya agar mendirikan patung-patung di tempat-tempat yang biasa mereka duduki, dan memberi nama patung-patung tersebut dengan nama orang-orang saleh itu.
Mereka pun melakukannya, tetapi patung-patung itu belum disembah sampai ketika generasi tersebut meninggal dunia dan ilmu agama dilupakan, akhirnya patung-patung itu disembah (lihat: HR. Bukhari, no. 4920)
Demikian pula penyimpangan terjadi pada bangsa Arab. Pada awalnya, mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihissalam, hingga datanglah Amr bin Luhay Al-Khuza'i yang mengubah agama Ibrahim dan membawa berhala-berhala ke tanah Arab untuk disembah selain Allah.
Kemudian, kesyirikan menyebar sampai Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad ﷺ yang mengajak manusia kepada tauhid dan kembali kepada ajaran Nabi Ibrahim.
Maka aqidah tauhid kembali murni dan suci, dan generasi awal umat ini serta mereka yang mengikuti jejaknya berjalan di atas ajaran tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, kebodohan menyebar di kalangan kaum muslimin secara umum, dan kesyirikan mulai tersebar pada abad-abad belakangan dengan cara yang serupa seperti pada masa awalnya terjadi pada kaum Nabi Nuh, yaitu dalam bentuk pengagungan kepada para wali dan orang-orang saleh, mengklaim cinta kepada mereka, membangun kuburan-kuburan di atas makam mereka, dan menjadikannya sebagai berhala-berhala yang disembah selain Allah melalui doa, meminta pertolongan, menyembelih, dan bernazar.
Mereka menyebut kesyirikan mereka sebagai bentuk tawassul (perantara) dengan orang-orang saleh, dan mereka lupa bahwa ini adalah klaim orang-orang musyrik terdahulu, yang berkata,
ما نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya" (Az-Zumar: 3).
